Raja Raden Wijaya Mangkat, Pergolakan Internal Guncang Kerajaan Majapahit
Mahapatih Nambi seorang teman setia Raden Wijaya yang bersama-sama melewati pahit manisnya mendirikan Kerajaan Majapahit tak menyukai pengangkatan ini. Sikap mahapatih ini juga didukung oleh teman-teman seperjuangannya yang merupakan para pejabat istana Majapahit.
Para pejabat Majapahit di masa Raden Wijaya seperti Pamandana, Mahesa Pawagal, Panji Anengah, Panji Samara, Panji Wiranagari, Jaran Bangkal, Jangkung, Teguh dan Emban tak menyukai pengangkatan ini. Termasuk tujuh dharmaputra atau pangalasan wineh suka yang merupakan pegawai tinggi yang sangat diistimewakan di masa Raja Raden Wijaya.
Pergantian tahta di Majapahit ini merupakan puncak gunung es dari pergulatan politik antarwangsa pada waktu itu. Kuatnya kedudukan Sri Parameswari Dyah Dewi Tribhuwaneswari yang merupakan putri sulung Raja Kertanegara maupun keturunannya untuk menjadi Rani Majapahit, atau mewakili putranya yang merupakan hasil pernikahan dengan raja Kertarajasa Jayawardhana.
Legitimasi kuat begitu terlihat di awal masa pemerintahan Raden Wijaya, tak heran jika akhirnya kian memperkuat legitimasinya dengan menikahi empat putri raja Kertanegara, raja terakhir Kerajaan Singasari. Raden Wijaya berusaha memperkuat kekuatan politiknya dan menahbiskan Wangsa Rajasa, mengalahkan Wangsa Sinelir.
Konon pertentangan antara dua wangsa ini telah berlangsung lama dan terkadang diwarnai insiden berdarah, sehingga kedua belah pihak saling memperkuat kedudukannya masing-masing. Pertentangan politik antar wangsa ini membuat pergantian tahta Majapahit memanas dan diwarnai peperangan yang memakan korban jiwa.
Hal inikarena ibu Jayanagara yakni Sri Parameswari Dyah Dewi Tribhuwaneswari juga merupakan bekas istri Nararya Ardharaja, yang merupakan saingan berat Raden Wijaya maupun trah Wangsa Rajasa. Sebab itulah pelantikan Jayanagara sebagai raja Majapahit mendapat pertentangan dari berbagai pihak, meski berstatus putra dari Raden Wijaya.
Editor: Donald Karouw