Misteri Dusun Pandak, Lokasi Pelarian Raden Wijaya dari Kejaran Jayakatwang
KEDIRI, iNews.id - Raden Wijaya dan pasukannya melarikan diri dari serangan Jayakatwang usai kegagalan merebut istana Tumapel atau yang dikenal dengan Singasari. Raden Wijaya mengarah ke utara dari ibu kota kerajaan atas saran Lembu Sores, salah satu pengikutnya.
Ketika pelarian itulah, Raden Wijaya singgah di sebuah dusun bernama Dusun Pandak. Konon Raden Wijaya singgah di Dusun Pandak. Di situ dia diterima dan dijamu oleh ketua desa yang bernama Macan Kuping dengan buah kelapa muda dan si patih.
Raden Wijaya terharu menerima sambutan ramah tamah itu. Kemudian ia bermaksud melanjutkan perjalanannya sebagaimana dikutip dari "Menuju Puncak Kemegahan : Sejarah Kerajaan Majapahit". Di situlah salah satu pasukan andalannya bernama Gadjah Pagon terlalu letih akibat lukanya pada paha, tidak dapat ikut serta.
Dia ditinggalkan di Dusun Pandak, disembunyikan di tengah ladang. Makan minumnya dijaga setiap hari oleh para penghuni desa. Raden Wijaya meninggalkan dusun Pandak menuju Dataran. Dari situ lalu naik perahu menuju Madura.
Pada Kakawin Pararaton, Dusun Pandak tidak disebut, yang disebut ialah Datar. Dalam hal ini boleh dikatakan ada persesuaian berita antara Pararaton dan Kidung Panji Wijayakrama. Lempengan tembaga yang terdapat di gunung Butak di daerah Majakerta yang dikeluarkan oleh raja Kertarajasa Jayawardhana, yakni nama abiseka Raden Wijaya, pada tahun Saka 1216 atau tahun Masehi 1294 sebagian telah diterjemahkan oleh ahli bahasa kuno Belanda Dr. Brandes. Sebagian lagi sudah diterbitkan dalam Oud Javaansche Oorkonden.