Kisah Hendra, Pelukis yang Pernah Membuat Bung Karno Meneteskan Air Mata
"Bapak terasa hidup kembali," kata istri Jenderal Sudirman, Siti Alfiah seperti tertulis dalam “Surga Kemelut Pelukis Hendra, Dari Pengantin Revolusi Sampai Terali Besi”. Hingga milenium ketiga patung karya pelukis Hendra masih berdiri di depan gedung DPRD Yogyakarta.
Hendra merupakan dedengkot sanggar Pelukis Rakyat. Sejak berdiri di Yogyakarta, komunitas yang berisi para perupa itu juga belajar seni menatah batu. Bagi Hendra, setelah pembangunan Candi Prambanan pada abad ke-9, bangsa Indonesia tak lagi melanjutkan tradisi membuat patung tatah batu.
"Maka, kehadiran kehadiran patung-patung batu seniman Pelukis Rakyat bisa dinyatakan sebagai yang pertama setelah Candi Prambanan".
Nama Hendra sebagai perupa sekaligus pematung, moncer. Pada tahun 1951, Pemerintahan Soekarno mengutusnya sebagai delegasi Indonesia dalam acara Youth Festival di Berlin Timur, Jerman Timur. Hendra juga mendapat fasilitas untuk bermuhibah.
Dalam rangka melihat karya seni, dia berjalan-jalan ke Italia, Rumania, Uni Soviet, dan Tiongkok. Hendra menyaksikan karya mural Diego Rivera, seniman Mexico ternama. Dia berharap besar bisa datang ke Mexico untuk belajar seni mural. "Namun keinginan yang kuat ini, tidak pernah menjadi kenyataan dalam hidupnya".