Menelusuri Jejak Kemerdekaan Indonesia di Semarang, Berawal dari Gedung Djawa Hookokai
Parada Harahap sendiri belum bisa mempercayai kabar Proklamasi Kemerdekaan. Bahkan dia menganggap proklamasi sepihak dilakukan oleh oknum-oknum Indonesia saja. Sementara yang dia fahami Kemerdekaan telah dijanjikan oleh Tenno Heika yang masih digodog Dokuritsu Zyumbi Inkai.
Parada Harahap masih dalam keraguan, bahkan saat Sinar Baru sudah membuat zet cetak, dibatalkan hanya karena khawatir proklamasi dianggap memberontak terhadap saudara tua (Jepang).
Sinar Baru akhirnya dalam tekanan Jepang dan hanya menyiarkan berita-berita dari Gunseikanbu semacam kantor Infokom Jepang. Namun demikian para karyawan berjuang gigih untuk terbitan yang menguntungkan Jepang justru korannya tidak disampaikan kepada pembaca atau pelanggan. Melainkan dikumpulkan dan dibakar.
Bojong 89 markas pemuda pertahanan Kemerdekaan di Jalan Pemuda (Bodjong) No 89 Semarang yang dulu ditempati sebagai Markas Angkatan Muda. Sejak Indonesia mencapai Kemerdekaannya, kemudian para pemuda Semarang yang dimotori Bambang Suprapto, S Karna, Ibnu Parna, Martadi, Rochjati, Bambang Subandono, Soewarso, S Broto dan lainnya membentuk barisan Angkatan Muda. Mereka bermarkas menempati Gedung di Jalan Bojong 89.
Maka kala itu Bojong 89 sebagai pengendali Gerakan perjuangan rakyat Semarang. Karena dari Gedung ini juga dibentuk barisan Angkatan Muda wilayah Pekalongan (Slamet Soenarjo dan Arsad), Hamid Effendi untuk Pati, Harsono untuk Surakarta, Soenarto untuk kedu dan Soetojo untuk Banyumas.