Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Sikat Begal dan Kreak, Polda Jateng Gelar Operasi Kejahatan Jalanan di Semarang
Advertisement . Scroll to see content

Cerita Kapten CPM Punawirawan Sanjoto, Memburu DN Aidit saat Singgah di Rumah Peterongan Semarang

Kamis, 26 November 2020 - 12:51:00 WIB
Cerita Kapten CPM Punawirawan Sanjoto, Memburu DN Aidit saat Singgah di Rumah Peterongan Semarang
Kapten CPM Punawirawan Sanjoto berada di rumahnya setelah direnovasi, di Jalan Belimbing Raya No 34 Peterongan Semarang. (Sindo Media/Ahmad Antoni)
Advertisement . Scroll to see content

Sanjoto yang saat itu masih berpangkat Peltu menuturkan, satu minggu setelah peristiwa G 30 S/PKI dirinya mendapat pemberitahuan dari pusat dan panglima bahwa yang mengendalikan G 30 S itu adalah PKI.

“Atas perintah panglima sama komandan saya (Kolonel Sumaedi) diperintahkan regu saya dan pimpinan saya mampir ke Kodim (0733/BS) Semarang. Namun saat itu Komandan Kodim (Dandim) yang baru tak ada, yang ada kepala stafnya namanya Mayor Riyadi,” katanya.

“Loh ada apa pak, saya itu diperintahkan sama komandan saya mencari rumah di Peterongan yang digunakan transit DN Aidit cs dari Jakarta. Wah kebetulan itu depan rumah saya banyak kendaraan , saya lari ke sini sama pak Wiradi (almarhum) di situ bendera-bendera PKI itu banyak. Dari sejumlah tetangga bilang kalau 2 jam lalu sudah berangkat (melarikan diri). Waduh ketinggalan,” beber Sanjoto yang saat itu bertugas sebagai anggota Intel Pomdam.

Ketika DN Aidit singgah di rumah Jalan Belimbing, dia telah mempersenjatai diri menjaga segala kemungkinan jika ada perlawanan dari komplotan PKI. “Waktu Aidit transit, saya dengan senjata lengkap, bawa 2 senjata salah satunya pistol. Saat perburuan waktu itu, saya bersama dengan 2 anggota Kodim dan 3 anggota CPM,” sebutnya.

Ia menambahkan, saat itu dirinya secara kebetulan telah membaca keadaan di dalam ruangan. Ternyata rombongan DNA (DN Aidit) pergi ke timur (Solo). “Lantas saya telpon sama komandan, saya laporan bahwa 2 jam yang lalu sudah tak ada, lari ke timur. Di solo komandan saya telpon Dandenpom Solo dijawab sudah diberondong (tertangkap di Solo),” ujar pria kelahiran 17 November 1930 ini.

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut