Arti Hari Raya Idul Fitri: Bukan Hari Kemenangan atau Kembali Suci?
Penulis buku Wawasan Al-Qur'an; Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat tersebut menjelaskan bahwa ada banyak tingkatan setan yang mengganggu manusia. Bahkan, Rasulullah Muhammad SAW yang mendapat predikat maksum, kata Prof Quraish mengutip ayat dari surat al-Araf, tidak luput dari godaan setan. Oleh sebab itu, ia meminta pertolongan kepada Allah agar terhindar dari godaan setan.
"Jangan pernah menduga Idul Fitri itu hari kemenangan karena kalau Anda mengatakan bahwa Idul Fitri hari kemenangan, kemenangan itu menjadikan Anda berleha-leha, menjadikan Anda merasa bangga," sambung mufasir lulusan Universitas Al-Azhar Kairo ini.
Dia juga mengajak umat Islam untuk merenungkan kembali makna “Minal aidin wal faizin” yang sebenarnya disampaikan oleh Rasulullah melalui sebuah doa berlafaz Taqabbalallahu minna wa minkum. Makna doa tersebut berarti semoga diterima segala peribadatan pada bulan Ramadhan.
"Jadi Rasulullah itu mengajarkan kita berdoa semoga Allah menerima. Jangan pernah yakin bahwa amalan Anda sudah diterima oleh Allah. Kalau kita tidak yakin seperti itu kita jangan yakin bahwa menang," ujar penulis Lentera Al-Qur'an: Kisah dan Hikmah Kehidupan ini.
Sebagaimana yang tertuang di Al-Qur'an bahwa setan itu mengalir di tubuh manusia seperti mengalirnya darah. Sementara riya itu diibaratkan seperti semut hitam di kelamnya malam dan berjalan di atas batu yang licin. Maka sifat itu tidak bisa Anda lihat. Maka Prof Quraish mengimbau agar senantiasa membentengi diri dengan tidak memuji diri secara berlebihan.