Sidang Kasus Penipuan Studi ke China Digelar di Ruang Mediasi PN Bandung, Korban Kecewa
Menurut Rosi, hasil interogasi terhadap terduga pelaku, dana para korban digunakan untuk keperluan siswa lain yang bersekolah di Taiwan. Tidak hanya itu, uang para korban digunakan pelaku untuk membayar pinjaman online dan judi bola. Dia memasukkan anaknya sekolah SMA di Tiongkok agar nanti lebih mudah saat masuk kuliah di negara tersebut.
Sementara itu, Thomas, korban lain, mengatakan, sebanyak 50 orang menjadi korban. Total kerugian yang dialami korban mencapai Rp5 miliar. "Total kerugian di data kami kurang lebih Rp5 miliar. Setiap korban berbeda-beda tergantung kegiatan yang ditawarkan," kata Thomas.
Kasus dugaan penipuan ini terungkap sejak Mei lalu sebab terdapat korban yang anaknya dijanjikan berangkat. Namun, batal berangkat. Program yang ditawarkan terlapor, yaitu, pendidikan ke Tiongkok dan study tour. "Harusnya anak kami itu masuk SMA di Hangzhou China supaya kalau mau lanjut ke universitas bisa lebih mudah," ujar dia.
Thomas mengaku tertipu hingga Rp30 juta akibat dari ulah terduga pelaku berinisial LIT ini. Guru perempuan tersebut kata Thomas bahkan awalnya mengaku sebagai kepala sekolah.
"Kami juga telah membawa bukti, berupa bukti transfer, pamflet study tour dan lainnya sebagai barang bukti. Kami pun bahkan membawa langsung terduga pelaku ke Polda Jabar agar bisa diproses," tutur Thomas.
Salah seorang siswa SMA yang selama ini belajar daring karena pandemi Covid-19, Sheva (17) mengaku kecewa karena semula akan pergi ke Tiongkok untuk lanjutkan studi, namun gagal.
"Harusnya berangkat sekarang karena sudah mulai sekolah offline jadi butuh untuk biaya tiket dan lainny. Hanya saja uangnya dipake sama ibu itu entah kemana. Saya merasa sangat kecewa," kata Sheva.
Editor: Agus Warsudi