9 Masjid di Bandung, Jejak Syiar Islam di Dataran Tinggi Priangan
Kini, Masjid Mungsolkanas yang berada di tengah kawasan padat penduduk, diapit permukiman, gedung-gedung apartemen, dan lainnya. Meski begitu, suasana masjid terasa sejuk walaupun saat tengah hari. Air yang keluar dari keran tempat wudu pun dingin, seperti air dari dalam kulkas.
Masjid Mungsolkanas didirikan oleh KH Abdurrohim atau Mama Aden pada 1869. Semula, bangunan masjid hanya berupa pondok tempat Mama Aden mengajarkan mengaji Alquran dan agama Islam kepada murid-muridnya.
Mama Aden menggembleng murid-muridnya menjadi dai untuk menyebarluaskan agama Islam di Tatar Priangan. Para santri yang telah tamat menimba ilmu agama di bawah bimbingan KH Abdurrohim, kemudian bermukim dan mensyiarkan Islam di tempat baru.
Kini, Masjid Mungsolkanas bisa menampung 800 jamaah. Selain masjid, KH Abdurrohim mewariskan Alquran tulisan tangan yang berumur 147 tahun.
Dulu bentuk bangunannya tidak seperti ini, tapi kobong atau tempat tinggal santri. Saat itu digunakan untuk belajar mengaji. Ketika Mama Abdurohim membangun masjid ini, metode pengajaran yang digunakan adalah metode pesantren.