Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Rupiah Hari Ini Ditutup Kembali Menguat, Tinggalkan Level Rp18.000 per Dolar AS
Advertisement . Scroll to see content

Mengapa Dolar Bertahan di Rp18.000?

Jumat, 17 Juli 2026 - 09:47:00 WIB
Mengapa Dolar Bertahan di Rp18.000?
Rupiah memang tidak terus merosot setiap hari, tetapi kegagalannya kembali menjauh dari level Rp18.000 menunjukkan bahwa tekanan belum benar-benar berakhir. (Foto Ilustrasi/IMG)
Advertisement . Scroll to see content

Bank Sentral Menjadi Penyangga Terakhir

Tanda yang perlu dicermati bukan hanya besarnya defisit, melainkan semakin besarnya peran Bank Indonesia dalam menjaga keseimbangan pasar keuangan. Hingga 17 Juni 2026, Bank Indonesia telah membeli surat berharga negara senilai Rp156,98 triliun, termasuk pembelian di pasar sekunder sebesar Rp76,62 triliun. 

Pada saat yang sama, posisi sekuritas Rupiah Bank Indonesia mencapai Rp1.021,13 triliun, dengan kepemilikan investor nonresiden sebesar Rp238,09 triliun. Pembelian SBN oleh Bank Indonesia tidak otomatis berarti pemerintah telah memaksa bank sentral mencetak uang. Operasi tersebut dapat dilakukan untuk mengelola likuiditas, menjaga stabilitas pasar, dan memperkuat transmisi kebijakan moneter. Akan tetapi, angka yang semakin besar tetap menimbulkan pertanyaan tentang batas antara stabilisasi pasar dan dukungan pembiayaan fiskal.

Risiko dominasi fiskal muncul ketika keputusan moneter semakin banyak dipengaruhi kebutuhan menjaga biaya utang pemerintah, menyerap penerbitan SBN, dan mendukung program pertumbuhan. Bank sentral kemudian harus menginjak dua pedal yang arahnya berlawanan. 

Di satu sisi, suku bunga dinaikkan untuk mempertahankan rupiah. Di sisi lain, likuiditas harus disediakan agar pasar obligasi, perbankan, kredit, dan program pemerintah tetap berjalan. Kondisi tersebut dapat menciptakan lingkaran yang mahal. Belanja fiskal yang agresif meningkatkan kebutuhan utang. Kebutuhan utang yang besar mendorong imbal hasil. Imbal hasil tinggi menarik modal, tetapi juga memperbesar biaya bunga. 

Ketika rupiah tetap lemah, Bank Indonesia perlu menawarkan imbal hasil moneter yang lebih menarik. Pada akhirnya, pemerintah dan bank sentral sama-sama membayar harga yang lebih tinggi untuk mempertahankan kepercayaan pasar.

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut