Hijrah dan Energi Baru Indonesia: Maju Babarengan, Aksi Nyata Hasil Karasa
Di sektor ekonomi kerakyatan, UMKM menjadi tulang punggung perekonomian daerah dan nasional. Lebih dari 99 persen unit usaha di Indonesia merupakan UMKM yang menyerap sekitar 97 persen tenaga kerja nasional. Jawa Barat memiliki jutaan pelaku UMKM yang membutuhkan dukungan permodalan, peningkatan kapasitas usaha, transformasi digital, dan perluasan akses pasar agar mampu naik kelas dan menjadi motor pertumbuhan ekonomi daerah.
Dari sisi kualitas sumber daya manusia, Indeks Pembangunan Manusia Jawa Barat terus meningkat. Namun tantangan peningkatan kompetensi tenaga kerja, kualitas pendidikan, penguasaan teknologi, dan produktivitas masih memerlukan perhatian serius. Bonus demografi yang dimiliki Indonesia hanya akan menjadi berkah apabila diiringi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia yang memadai.
Data-data tersebut menunjukkan bahwa semangat hijrah dalam konteks pembangunan bukan sekadar ajakan moral, melainkan kebutuhan nyata. Jawa Barat membutuhkan energi baru yang mampu mengubah potensi besar yang dimiliki menjadi kekuatan ekonomi, sosial, dan budaya yang memberikan manfaat bagi seluruh masyarakat.
Dalam konteks itulah gagasan Energi Baru Indonesia menemukan relevansinya. Energi Baru Indonesia merupakan semangat perubahan yang diwujudkan melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia, penciptaan lapangan kerja, penguatan UMKM, pemberdayaan kelompok produktif, perlindungan pekerja migran, serta pembangunan ekonomi yang inklusif. Semangat ini mendorong masyarakat agar tidak hanya menjadi penonton pembangunan, tetapi menjadi pelaku utama perubahan.
Di Jawa Barat, semangat tersebut diterjemahkan melalui visi “Perindo Jabar Maju Babarengan.” Filosofi maju babarengan mengandung makna bahwa kemajuan harus dirasakan bersama oleh seluruh lapisan masyarakat. Tidak boleh ada kelompok yang tertinggal dalam proses pembangunan. Kemajuan yang hanya dinikmati sebagian kecil masyarakat pada akhirnya akan melahirkan ketimpangan sosial yang menghambat pembangunan itu sendiri.