Di Balik Inflasi yang Terkendali, Perlindungan bagi Kelas Menengah Kian Mendesak
Oleh karena itu, inflasi 3,34 persen tidak boleh dibaca secara datar. Bagi kelompok berpendapatan tinggi, kenaikan bensin atau tiket pesawat mungkin hanya mengurangi konsumsi tambahan.
Bagi kelas menengah bawah, kenaikan itu bisa menggerus tabungan, menunda kebutuhan penting, atau memaksa keluarga berutang. Padahal, ekonomi nasional masih sangat bergantung pada konsumsi rumah tangga.
Bank Indonesia mencatat ekonomi triwulan I 2026 tumbuh 5,61 persen secara tahunan, dengan konsumsi rumah tangga tumbuh 5,52 persen, antara lain ditopang mobilitas masyarakat pada periode Hari Besar Keagamaan Nasional dan stimulus pemerintah.
Jika kelas menengah mulai menahan belanja, menunda pembelian, mengurangi perjalanan, atau memangkas konsumsi pendidikan dan kesehatan, maka dampaknya akan kembali ke pertumbuhan ekonomi.
Menjaga kelas menengah bukan agenda elitis, melainkan agenda stabilitas ekonomi nasional. Pemerintah harus berhati-hati agar narasi inflasi terkendali tidak menjadi alasan untuk mengabaikan tekanan riil. Stabilitas makro penting, tetapi tidak cukup jika ongkos hidup naik lebih cepat daripada pendapatan.