Di Balik Inflasi yang Terkendali, Perlindungan bagi Kelas Menengah Kian Mendesak
Ini artinya, inflasi transportasi bekerja seperti pemotongan pendapatan riil secara diam-diam. Gaji nominal mungkin tetap, tetapi kemampuan membeli berkurang. Di sinilah kelas menengah Indonesia berada dalam posisi paling rapuh.
Laporan Mandiri Institute menyebut jumlah kelas menengah Indonesia menyusut dari 47,9 juta orang pada 2024 menjadi 46,7 juta orang pada 2025. Proporsinya terhadap total penduduk turun dari 17,1 persen menjadi 16,6 persen.
Pada saat yang sama, kelompok aspiring middle class mencapai sekitar 50,4 persen populasi. Data ini menunjukkan bahwa banyak rumah tangga Indonesia berada di ambang kelas menengah, tetapi mudah turun kelas ketika menghadapi kenaikan biaya hidup, kehilangan pekerjaan, biaya pendidikan, cicilan, atau sakit.
Kelas menengah sering dianggap mandiri dan kuat, padahal sebagian besar hidup dalam tekanan permanen. Mereka membayar pajak, membeli BBM nonsubsidi, membayar pendidikan anak, mencicil rumah atau kendaraan, dan menanggung biaya kesehatan yang tidak selalu tertutup layanan publik.
Mereka terlalu mampu untuk menjadi sasaran bantuan sosial, tetapi terlalu rentan untuk dibiarkan menanggung semua risiko sendiri.