Cerita Rafael Alun di Persidangan, Ibunya Punya Banyak Emas Batangan-Kakeknya Bangun Lanud
"Nah, pada saat itu saya menyampaikan kepada Ibu saya, menyarankan 'Bu, Ibu kan sudah tua, emas Ibu banyak, daripada Ibu simpan emas ada risiko Ibu sering kehilangan, simpan uang kehilangan' karena Ibu saya juga tidak menyimpannya di bank, Yang Mulia. Jadi model-model lemari zaman dulu itu ada semacam jendela begitu, tapi sebetulnya laci di dalamnya, alas kaki di bawah seperti ini, Yang Mulia, sebetulnya bisa dicongkel, ditarik, ada laci di dalamnya,” ucapnya.
“Itu lemari-lemari dari jati zaman dulu. Nah, Ibu saya menyimpannya di situ dan di lemari tanam di rumahnya itu ada semacam tanah yang digali ke bawah itu ditutup dengan teras dan itulah Ibu saya menyimpan emas-emasnya di situ," katanya.
Lebih jauh, Rafael mengatakan pernah menyarankan kepada ibunya untuk menggunakan emas batangan tersebut dalam membeli tanah.
"Nah saya menyarankan kepada Ibu saya 'daripada Ibu menyimpan itu kenapa nggak dibelikan tanah aja, toh Ibu sudah tua. Daripada Ibu menyimpan emas, nanti kalau Ibu ada apa-apa itu hilang percuma. Kalau menyimpan tanah, Ibu kan emang sukanya jual beli tanah' tapi paling nggak itu tidak hilang bisa diwariskan kepada anak-anaknya. Nah, Ibu saya ini emang tidak suka dari mudanya dengan yang namanya rekening bank," ujarnya.
Diketahui, mantan pejabat Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Rafael Alun Trisambodo didakwa menerima gratifikasi sebesar Rp16.644.806.137 (Rp16,6 miliar). Ayah Mario Dandy Satriyo tersebut didakwa menerima gratifikasi belasan miliar bersama-sama istrinya, Ernie Meike Torondek.