Amunisi, Daya Tahan, dan Nyali: 3 Ujian di Balik Pertumbuhan 5,61%
Dekomposisi harga dan volume menunjukkan pola yang khas. Nilai ekspor nikel naik 60,60%, sementara harga global hanya naik 12,8%, sehingga volume diperkirakan meningkat sekitar 42%, dampak nyata hilirisasi. Sebaliknya, nilai ekspor batubara turun 8,35% padahal harga global naik, yang berarti volume ekspor diperkirakan turun 20–26%. Hal ini konsisten dengan penurunan impor batubara Tiongkok dari Indonesia sebesar 12,26% sepanjang 2025. Indonesia kini bertumpu pada hilirisasi nikel, sambil kehilangan volume di batubara, pertanian, dan migas.
Ketergantungan struktural pada komoditas menjadi titik kerentanan. Empat golongan utama hasil olahan komoditas (minyak nabati, bahan bakar mineral, besi-baja, dan nikel) menyumbang sekitar 39% total ekspor Januari–Maret 2026. Jika digabung dengan migas, pertambangan, dan pertanian, ketergantungan ekspor pada komoditas alam dan turunannya melampaui 50%.
Sementara itu, pangsa industri pengolahan terhadap PDB justru menyusut dari 19,25% menjadi 19,07%. Agenda hilirisasi memang menunjukkan hasil pada subsektor nikel, tetapi hilirisasi satu komoditas belum bisa disebut transformasi struktural. Tanpa diversifikasi ke manufaktur nonkomoditas seperti elektronik, mesin presisi, atau farmasi, Indonesia tetap rentan ketika siklus komoditas berbalik arah.
Di sisi impor, barang modal melonjak 24,02% menjadi 12,98 miliar dolar AS, terutama mesin dan peralatan mekanis. Sementara itu, bahan baku dan barang penolong naik 6,89% menjadi 43,17 miliar dolar AS. Investasi industri memang aktif, tetapi harus dibayar dengan devisa di muka, sementara pemulihan ekspor membutuhkan waktu.
Secara teori, pelemahan rupiah seharusnya memperbesar surplus perdagangan. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Permintaan impor Indonesia bersifat inelastis terhadap nilai tukar karena energi, barang modal, dan bahan baku tidak mudah disubstitusi dalam jangka pendek. Di sisi lain, ekspor Indonesia masih didominasi komoditas yang harganya ditentukan pasar global. Akibatnya, rupiah sudah membayar mahal harga depresiasi, tetapi neraca perdagangan tidak mendapatkan manfaatnya.