Amunisi, Daya Tahan, dan Nyali: 3 Ujian di Balik Pertumbuhan 5,61%
PDB manufaktur Triwulan I-2026 tumbuh 5,04%, tetapi PMI Manufaktur April 2026 berada di level 49,1 masuk zona kontraksi. PMI di bawah 50 berarti para manajer pembelian melaporkan penurunan aktivitas. Ini bukan persoalan akuntansi, melainkan indikator riil bahwa kondisi terkini sudah berbalik dibanding pertumbuhan Triwulan I. Jika Pak Anggito serius mempertanyakan keberlanjutan pertumbuhan, argumen ini justru paling kuat mendukung tesisnya, tetapi beliau melewatkannya.
Kelima, ongkos pertumbuhan.
Pertama, keseimbangan primer berbalik dari surplus Rp21,9 triliun pada Triwulan I-2025 menjadi defisit Rp95,8 triliun pada Triwulan I-2026, atau terjadi swing negatif Rp117,7 triliun dalam satu kuartal. Pola pemburukannya juga tidak linear. Defisit primer per 31 Januari 2026 masih Rp4,2 triliun, tetapi per 31 Maret sudah mencapai Rp95,8 triliun. Artinya, Februari dan Maret menambah defisit Rp91,6 triliun, didorong akselerasi MBG, THR Rp51,6 triliun, dan bantuan pangan Rp13,37 triliun.
Pembayaran bunga utang Triwulan I-2026 sekitar Rp144,3 triliun, naik 18,6% YoY dibanding Rp121,7 triliun pada Triwulan I-2025. Angka ini dihitung dari selisih defisit anggaran dan defisit primer dalam APBN Kita April 2026. Sebagai konteks, realisasi setahun penuh 2024 mencapai Rp488,4 triliun atau 14,5% total belanja negara berdasarkan Statistik Keuangan Pemerintah Pusat Bank Indonesia (Tabel IV.2, publikasi terbaru BI).
Defisit primer Triwulan I-2026 sebesar Rp95,8 triliun bahkan sudah mencapai 106,8% dari pagu defisit primer setahun penuh APBN 2026 sebesar Rp89,7 triliun. Tiga kuartal tersisa praktis harus dibiayai sepenuhnya melalui utang baru, sementara bunga utang yang tumbuh 18,6% YoY akan terus mengikis pendapatan negara pada kuartal-kuartal mendatang.
Kedua, subsidi dan kompensasi Triwulan I-2026 mencapai Rp118,7 triliun, hampir empat kali lipat dibanding realisasi Rp32,4 triliun pada Triwulan I-2025. Padahal, pagu APBN setahun penuh hanya Rp266,5 triliun. Dengan harga Brent sekitar 108 dolar Amerika Serikat per barel, jauh di atas asumsi APBN 70 dolar AS per barel dan rupiah melemah lebih dari asumsi APBN 6,7%, realisasi setahun penuh berisiko melampaui pagu.