Pemerintah Delhi pun menyalahkan para petani yang membakar tunggul tanaman di negara bagian tetangga, karena udaranya yang tidak sehat. Menteri Utama (setara gubernur) New Delhi, Arvind Kejriwal, pada pekan ini mengatakan, perilaku para petani itu juga memperburuk dampak wabah virus corona (Covid) di wilayahnya.
Heboh Adegan Ciuman Perempuan Hindu dan Pria Muslim Berlatar Belakang Kuil di India
Faktanya, lebih dari setengah polutan yang mencemari udara Delhi adalah hasil dari emisi kendaraan, limbah beracun, dan asap dari ribuan unit industri kecil yang tidak diatur oleh pemerintah setempat. Belum lagi debu-debu dari proyek konstruksi yang tidak pernah berakhir, juga memperparah kondisi itu, menurut hasil analisis sejumlah kelompok lingkungan.
“Delhi tidak dapat membangun tembok untuk mencegah udara tercemar datang dari negara bagian sekitarnya. Akan tetapi, mereka harus memeriksa sumber pencemaran udara sendiri, baik itu debu, industri ilegal, pabrik pencemar, kendaraan yang mencemari, atau pembakaran limbah dan biomassa,” kata pendiri grup lingkungan Swechha, Vimlendu Jha.
Perang Artileri Pasukan India dan Pakistan Tewaskan 6 Orang
Larangan pembakaran sampah secara rutin dilanggar oleh warga Jahangirpuri yang padat penduduk. Selain itu, ada toko-toko cat dan pewarna kecil ilegal yang beroperasi dari rumah-rumah yang turut mencemari udara dan air di daerah itu.
Pada hari Rabu (25/11/2020) kemarin, sebuah tempat pembuangan akhir (TPA) sampah lainnya dengan ketinggian lebih dari 60 meter di daerah Ghazipur, terbakar dan mengeluarkan asap beracun ke atmosfer.
Ekonomi Anjlok karena Covid-19, India Andalkan Petani di Desa
“Kami mengalami kesulitan bernapas karena asap yang keluar dari TPA yang telah terbakar sejak kemarin,” kata seorang warga, Vivek Shukla (34).
Editor: Ahmad Islamy Jamil