Miliarder Ini Simpan 98 Persen Kekayaan di Emas dan Perak, Hartanya Tembus Rp58 Triliun
Nilai investasinya ikut melejit setelah Discovery Silver mengakuisisi proyek tambang emas besar di Ontario pada Januari 2025. Ke depan, Sprott masih sangat yakin terhadap prospek perak karena permintaan global terus meningkat sementara pasokan terbatas.
Berdasarkan data Silver Institute, pasar perak dunia telah mengalami defisit selama lima tahun terakhir karena permintaan selalu lebih tinggi dibanding produksi.
Permintaan perak tidak hanya datang dari investor, tetapi juga industri teknologi seperti baterai, elektronik, kendaraan listrik, hingga panel surya.
Selain emas dan perak, Sprott juga mulai melirik mangan, logam yang dinilai berpotensi besar digunakan dalam baterai kendaraan listrik generasi baru.
Dia bahkan telah membeli saham di sejumlah perusahaan tambang mangan setelah membaca laporan Samsung pada akhir 2024 terkait pengembangan baterai kendaraan listrik berbasis mangan.
Meski kondisi geopolitik dunia memanas, termasuk konflik di Iran, Sprott mengaku tetap tenang dan tidak tertarik mengejar saham teknologi populer seperti Nvidia, Microsoft, maupun Apple.
Sebaliknya, dia memilih tetap fokus pada logam mulia seperti yang sudah dilakukannya selama lebih dari 40 tahun terakhir.
Editor: Aditya Pratama