Beda Gejala Retinopati Diabetik dengan Katarak, Ini Penjelasannya!
Menurut American Diabetes Association (ADA), seluruh penyandang diabetes tipe 2 dianjurkan menjalani pemeriksaan mata komprehensif segera setelah didiagnosis. Sementara pada diabetes tipe 1, pemeriksaan dilakukan maksimal lima tahun setelah diagnosis, kemudian dilanjutkan secara berkala setiap satu hingga dua tahun atau sesuai rekomendasi dokter mata.
Skrining penting dilakukan karena kerusakan retina pada tahap awal masih dapat diperlambat melalui pengendalian gula darah, tekanan darah, kolesterol, maupun terapi seperti injeksi anti-VEGF, laser fotokoagulasi, atau operasi vitrektomi bila diperlukan.
Prof. Bayu menegaskan bahwa banyak pasien baru datang ketika gangguan penglihatan sudah cukup berat. Padahal, jika retinopati diabetik ditemukan lebih awal, peluang mempertahankan penglihatan jauh lebih besar.
Karena itu, ia mengimbau penyandang diabetes untuk tidak menunggu mata kabur sebelum memeriksakan diri.
"Kalau sudah muncul keluhan, sering kali penyakitnya sudah berkembang. Yang paling penting adalah skrining rutin, meskipun merasa penglihatan masih normal," pungkasnya.
Para ahli menegaskan, siapa pun yang memiliki diabetes sebaiknya tidak menganggap semua keluhan penglihatan sebagai katarak. Pemeriksaan retina oleh dokter spesialis mata tetap menjadi langkah terbaik untuk memastikan penyebab gangguan penglihatan sekaligus mencegah komplikasi yang lebih berat.
Editor: Muhammad Sukardi