Pemerintah Perlu Antisipasi Kenaikan Harga Barang dan Jasa
Jangan lupa juga, keniakan tarif ojol ini juga akan berdampak pada pula perusahaan penyedia aplikasi transportasi, seperti GoJek dan Grab.
Ancaman inflasi yang terus meningkat bukan hanya datang dari kenaikan tarif ojol, tapi juga dari harga-harga barang dan kebutuhan pokok lainnya yang memang sudah merangkak naik sebelumnya. Dalam beberapa kesempatan baik Presiden Joko Widodo maupun Menteri Keuangan Sri Mulyani melontarkan sinyal bahwa harga BBM bakal naik. Sebab, subsidi BBM dari APBN sudah sangat tinggi, lebih dari Rp500 triliun. Tiket pesawat juga bakal naik menyusul mahalnya harga avtur.
Perang Rusia-Ukraina, Pandemi yang masih ada, serta merosotnya kondisi ekonomi negara-negara lain di dunia, tampaknya memang benar-benar telah membuat tekanan yang hebat bagi kondisi perekonomian nasional. Krisis bahan pangan juga dialami didalam negeri, khususnya bahan pangan impor seperti tepung terigu.
Perlahan tapi pasti harga mie instan ataupun mie yang dijual oleh pedagang kaki lima mulai merangkak naik. Bahkan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, pernah menyampaikan bahwa kenaikan harga tepung terigu di pasar dunia, akan mengakibatkan harga mie instant naik hingga tiga kali lipat.
Ancaman inflasi tinggi dan kenaikan harga barang dan jasa perlu jadi perhatian serius. Sebab, masyarakat bawah itu sangat sensitif dengan kenaikan harga. Apalagi daya beli masyarakat sudah tergerus akibat pandemi Covid-19, banyak PHK, penurunan gaji, kenaikan harga-harga bahan pangan, harga barang, dan sebagainya. “Idealnya tarif ojol maksimal hanya naik di kisaran 10 persen,” ucap Piter.