Reza menerangkan, bila banyak perkebunan di Malang raya dan sekitarnya menjadikan Kota Malang kala itu sering dijadikan ajang pertemuan para crazy rich atau bos-bos perkebunan Belanda. "Jadi itu penting, masalah ada hotel kok banyak di Malang saya kira menjadi pusat pertemuan perkebunan di seluruh Malang Raya, istilahnya updeling," kata dia.
"Pusat pertemuan komunitas perkebunan Malang raya, bisa dari Lumajang, Blitar, kadang Kediri juga pertemuannya di sini. Kan pusat laboratorium uji di sini, laboratorium untuk tanaman di Malang, di Karya Timur gedungnya masih ada," kata Reza.
Sesuai pertemuan, dikatakan Reza, biasanya para tuan-tuan perkebunan itu tak langsung pulang. Namun, berkumpul terlebih dahulu sehingga ketika akan kembali pulang ke daerahnya masing-masing akan terlalu larut malam.
Dari sanalah alasan mengapa banyak hotel di Malang, tentu dari sekian hotel yang dibangun, Wisma Tumapel kala itu menjadi penginapan yang diminati oleh para crazy rich perkebunan. Penginapan yang dibangun tak jauh dari Sungai Brantas menyuguhkan pemandangan indah dari sungai dan udaranya yang sejuk.
"Kalau pulang sudah terlalu malam, kalau jarak sini ke Tumpang itu empat jam, naik trem sini ke Dampit kecepatannya cuma 40 kilometer per jam, mereka kadang nginap. Di mana mereka nginap di Splendid itu. Awal-awal itu untuk menginap mereka," tuturnya.