Bagi Wahyuni, bekerja sambil merawat anak bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Sementara, menjadi pengumpul sampah merupakan pekerjaan yang mungkin dia lakukan.
"Pekerjaan suami yang tidak menentu, membuat kami kesulitan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari serta biaya pendidikan anak-anak. Kondisi ini mendorong saya untuk mencari tambahan pemasukan dengan menjadi pengumpul sampah. Meski penghasilannya tidak seberapa dan risiko pekerjaannya tinggi, saya tetap lakukan agar keluarga bisa makan dan anak-anak bisa sekolah,” ujarnya.
Menjalani profesi pengumpul sampah, mengharuskan Wahyuni menyusuri jalan, mulai dari emperan dan toko untuk mencari botol-botol bekas, plastik, kardus, dan berbagai jenis sampah lain yang masih memiliki nilai ekonomi dan bisa didaur ulang.
Kemudian pada 2020, Wahyuni menjadi salah satu penerima manfaat dalam program Inclusive Recycling Indonesia (IRI). Setelah mendapatkan pendampingan dan binaan, dia menjadi lebih mengerti tentang kesehatan.
“Pada saat itu, awal mula pandemi Covid-19, banyak sekali informasi kesehatan yang beredar. Saya tidak tahu mana yang benar dan bisa dipercaya. Sampai saat tim IRI menghampiri kami, menjelaskan cara bekerja yang aman pada masa pandemi dengan ringan dan mudah dipahami," tuturnya.