Keputusan itu membuat Balogun tetap bisa tampil melawan Belgia pada babak 16 besar Piala Dunia 2026. Langkah FIFA muncul setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menelepon Infantino, meski Infantino menyebut keputusan tetap berada di tangan badan yudisial independen FIFA.
Tebas menilai kasus tersebut sangat serius dan bisa mengakhiri kekuasaan Infantino apabila Amerika Serikat melaju lebih jauh. Namun, Belgia menyingkirkan tuan rumah sehingga kontroversi itu perlahan tertutup oleh hasil pertandingan.
“Mereka beruntung Belgia menyingkirkan Amerika Serikat. Jika tidak, kasus ini mungkin bisa membuat Infantino kehilangan jabatannya,” ujar Tebas. Dia menyebut perkara Balogun hanya bagian kecil dari persoalan yang lebih besar di tubuh FIFA.
UEFA juga mengecam keputusan tersebut sebagai langkah yang belum pernah terjadi, sulit dipahami, dan tidak bisa dibenarkan. UEFA menegaskan hukuman otomatis setelah kartu merah bukan pilihan yang bisa dihapus secara bebas di tengah turnamen.
Ketegangan semakin terlihat ketika Presiden UEFA Aleksander Ceferin tidak menghadiri final Piala Dunia 2026 antara Spanyol dan Argentina. Absennya Ceferin dikaitkan dengan kasus Balogun serta keretakan hubungan antara UEFA dan FIFA.