Bruno Guimaraes menjelaskan Jepang membuat ruang bermain Brasil sangat sempit. Samurai Biru bertahan dengan struktur rapat yang membuat Selecao sulit menembus pertahanan.
“Area permainan sangat padat dan kami tidak punya ruang untuk memainkan permainan kami. Mereka bertahan secara efektif dengan formasi 5-4-1, sehingga sulit bagi kami untuk menembus. Pada babak kedua, pelatih meminta kami tampil lebih dominan dan menambah pemain di kotak penalti. Dari situlah gol tercipta,” kata Bruno.
Pemain Brasil Rasakan Efek Tenang Ancelotti
Perubahan taktik memang membantu Brasil bangkit. Namun, para pemain menilai perbedaan terbesar pada babak kedua terletak pada mentalitas. Ancelotti membuat Brasil tetap percaya, meski waktu berjalan dan tekanan makin terasa.
“Dia mengatakan kepada kami untuk bersabar karena kami adalah tim yang selalu berusaha mengontrol permainan dan mencetak gol,” kata winger Brasil, Rayan.
“Kami tahu kami akan membalikkan keadaan dan keluar sebagai pemenang,” ujarnya.