Menetapkan hati cabor catur, berbagai kesulitan mulai menghinggapi Margaretha. Meski telah didampingi pelatih, dia harus berusaha dua kali lipat untuk mencapai level tertinggi.
“Pasti kami tidak bisa seperti teman-teman yang penglihatannya sempurna. Buku juga kami gak bisa baca. Jadi kami minta bantuan dulu untuk dibacakan kesulitannya di situ. Untuk bisa sama dengan teman yang normal kami harus belajar dua kali lipat. Berarti kalau mau melebihi belajar nya harus lebih dari itu," ucapnya.
Margaretha juga mengungkapkan perasaan kecewa yang pernah singgah di hatinya. Hal itu terjadi ketika masih duduk di bangku kuliah Universitas Negeri Medan Jurusan Bahasa Jerman.
Kala itu, sepulang latihan catur Margaretha turun dari angkot jauh dari titik biasanya. Jalan yang dilalui pun bukan jalan yang biasanya. Akibatnya dia terperosok ke selokan sampah yang membuat sekujur tubuhnya bau.
“Itu sakitnya gak seberapa tapi malunya. Saya ditolong sama tukang becak. Terus saya bilang sama tuhan, udah tuhan sudah kan kamu puas lihat aku. Terus aku nangis,” ucapnya.