Keterlibatannya di catur dimulai saat dirinya bersekolah di bangku TK Yayasan tunanetra di bawah naungan Gereja di Jerman yang ada di dekat rumahnya pada tahun 1996.
“Awalnya masih TK. Di sana kami dikasih pendidikan formal dan ekskulnya ya. Jadi ada banyak ada olahraga seni,” kata Marghareta sembari mengingat.
Marghareta mengaku sempat mencoba sejumlah ekskul seperti paduan suara dan olahraga lempar lembing. Namun, dia merasa tidak berkembang. Pada akhirnya Margaretha memilih cabor catur dan merasa nyaman di tempat itu.
“Karena catur itu belajarnya melatih berpikir 3-5 langkah ke depan, strategi dan berhitung. Membantu juga saat di sekolah matematikanya terbantu karena di catur itu, mainnya menghitung ya,” tutur Margaretha.
“Kalau catur itu latihannya gak ribet. Gak harus kelapangan lapangannya kan harus dibawa karena papan catur. Kalau gak main pakai papan juga bisa namanya blind chess, jadi namanya catur tunanetra, kita bisa main tanpa memegang bidak caturnya. Jadi udah kebayang kotak 64 itu,” ujarnya.