Warga sebenarnya sudah menyampaikan permasalahan ini ke PT Angkasa Pura I selaku pemrakarsa proyek bandara NYIA. Setidaknya warga sudah lima kali menyampaikan tuntutan. namun tidak pernah ada tindak lanjut yang jelas atas keluhan warga. "Kita merasa disepelekan makanya kita terpaksa menutup ini," ucapnya.
Sebelum menutup jalan, pada siang harinya warga sudah menyampaikan keluhan dan tuntutan ke Help Desk PT Angkasa Pura. Namun managemen tidak bisa memberikan jawaban pasti atas tuntutan warga. “Warga ingin ada perbaikan jalan, kompensasi atas debu dan kesehatan,” ucapnya.
Warga lainnya, Nur Abadi mengakui, kerusakan jalan tidak pernah direspons oleh PT Angkasa Pura ataupun PT PP selaku pelaksana proyek. Jalan yang rusak justru diuruk warga secara swadaya. Sebab kalau tidak diurug dengan pasir dan batu kondisi jalan akan mengancam keselamatan warga. "Warga secara swadaya beli sendiri karena jalan sudah seperti sungai yang kering," katanya.
Kapolsek Temon Kompol S Hery Purnomo mengatakan aksi blokade jalan karena tuntutan warga atas kerusakan jalan tidak mendapat respons.
Menurut Kapolsek, sebenarnya jalur tersebut hanya diperuntukkan kendaraan kecil. Namun banyak pengguna yang tidak paham jalur dan banyak truk dan bus besar masuk. "Warga sebenarnya sudah minta untuk diperbaiki ke proyek bandara tetapi belum direspons," tandas Hery.