MARTAPURA, iNews.id - Kerusuhan yang terjadi di Manokwari, Papua Barat, hari ini mengundang perhatian banyak pihak. Tak terkecuali sesepuh masyarakat Papua, Ambassador Freddy Numberi, yang menginginkan semua anak bangsa hidup rukun dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Dia menuturkan, harapan untuk hidup dalam NKRI yang merdeka, berdaulat, adil, demokratis, dan menghormati HAM menjadi kabur manakala dirasakan menjadi Indonesia hanya sebuah nama tanpa makna. Bagi mahasiswa mahasiswi Papua yang berada pada kota-kota studi di Surabaya, Malang, Semarang, dan lainnya yang mengalami diskriminasi dan perlakuan tidak adil oleh sesama anak bangsanya atau saudaranya setanah air, tentunya ada perasaan kesal dan kecewa.
"Apalagi dihina dengan kata-kata kasar dan tidak dilindungi oleh negaranya dalam hal ini aparat keamanan. Mereka pasti memiliki perasaan bahwa tidak ada bedanya antara perlakuan Kolonial Belanda dengan negara yang dicintainya, Indonesia," ujar Freddy dalam keterangan pers yang diterima di Martapura, Sumsel, Senin (19/8/2019).
Dia mengatakan, Negara Indonesia adalah negara hukum berdasarkan UUD 1945 dan memiliki falsafah hidup Pancasila yang tidak dimiliki oleh negara-negara lain didunia. Namun, UUD 1945 dan Pancasila sebagai falsafah hidup dalam berbangsa dan bernegara, yang notabene dibacakan setiap saat, terutama pada peringatan Hari Proklamasi 17 Agustus setiap tahun, dan diagungkan sebagai pilar-pilar kebangsaan, terasa jauh dan terkesan tidak dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari malah diabaikan.
Dia mengaku sangat prihatin, Indonesia dalam usia kemerdekaannya yang ke-74 tahun dan Papua setelah 56 tahun sesuai prinsip Internasional 'Uti Possidetis Juris' (John Saltford, The United Nations and the Take over of West Papua 1962-1969;2003:hal.8), kembali ke rumahnya yang bernama NKRI masih saja diperlakukan diskriminatif, dihina, dan diperlakukan tidak adil. Ada kesan pembiaran diskriminasi oleh negara terhadap sekelompok kecil warga negaranya yang notabene adalah mahasiswa-mahasiswi asal Papua.