Pemimpin kelompok bajak laut itu tertarik sehingga membagi tim untuk menjelajah masuk ke sungai yang belum ada di peta itu. Para bajak laut ini sampai ke bagian hulu yang salah satunya wilayah Basemah di Lahat dan Pagar Alam saat ini.
Para bajak laut ini kaget karena wilayah di sekitar sungai sangat subur, rempah-rempahnya tumbuh subur. Selain itu batu bara muncul dengan sendirinya di atas tanah. Kelompok bajak laut ini kembali berkumpul dan berbincang yang hingga akhirnya pemimpin kelompok ini menamai sungai ini dengan Mu Ci yang berarti ayam betina.
Ayam betina dipilih karena sebagai mahluk yang memberikan keuntungan bagi manusia dengan telurnya yang banyak. Sungai itu layak disebut Mu Ci karena tanah di sekitarnya kaya dan subur serta masyarakat di sekitarnya dikenal baik.
Karena itu, wilayah di sekitar Sungai Mu Ci ini kemudian menjadi jalur perdagangan yang masa itu tentu dengan sistem barter. Dalam perjalanannya, beratus tahun kemudian Sungai Mu Ci berubah nama menjadi Musi yang dikenal hingga saat ini.
Sejarah Sungai Musi tidak terlepas dengan Kerajaan Sriwijaya. Sejak masa Kerajaan Sriwijaya, kesultanan Palembang hingga kolonial Belanda, Sungai Musi menjadi sarana atau jalur transportasi utama. Bahkan saat ini, jalur transportasi di Sungai Musi masih sangat sibuk.