"Karena terdapat kabar penjajah Belanda akan melakukan serangan bom di Nagari Alahan Panjang," katanya.
Semenjak kejadian itu, berpisahlah keluarga Idris (orang tua Buya M Natsir) dan keluarga Kamal (kakek Tuti). Keluarga Idris kembali ke kampung halaman mereka di Maninjau, sementara keluarga Kamal mengungsi ke daerah pegunungan di Sungai Abu, Kecamatan Hiliran Gumanti karena tempat tersebut belum diketahui penjajah Belanda kala itu.
Sesampai di Alahan Panjang setelah pulang dari tempat pengungsian sekitar tiga hingga empat bulan lamanya, keluarga Kamal menemukan rumah tempat kelahiran M Natsir tersebut habis dibakar penjajah Belanda.
"Rumah sebelumnya sudah dibakar penjajah Belanda. Setelah kemerdekaan rumah ini kembali dibangun, persis seperti aslinya untuk mengenang sejarah," kata Tuti.
Sampai saat ini, Tuti bersama keluarganya terus berupaya membangun dan melestarikan rumah bersejarah peninggalan kakeknya. Di mana rumah itu merupakan tempat kelahiran Buya M Natsir yang saat ini telah diangkat sebagai pahlawan nasional.