"Mereka sama-sama sebagai pedagang, yakni berdagang rempah-rempah seperti cengkeh, pala dan lainnya yang dijual ke daerah Bukittinggi, Payakumbuh dan Painan," katanya.
Suatu ketika, orang tua dari Buya M Natsir menyampaikan suatu pesan dia dan istrinya ingin pindah ke Alahan Panjang karena tidak betah tinggal di Bukittinggi akibat penganiayaan yang dilakukan penjajah Belanda.
"Kakek kami pun menyambut baik kedatangan beliau dan istrinya, karena anak kakek banyak yang hidup dirantau. Mereka pun tinggal bersama di rumah ini," ucapnya.
Setelah beberapa tahun pasangan suami istri itu tinggal di Alahan Panjang, lahirlah anak mereka yang diberi nama Mohammad Natsir, tepatnya pada tanggal 17 Juli 1908 di rumah sederhana itu.
Seiring berjalannya waktu, ketika umur M Natsir sekitar 5-6 tahun, Nagari Alahan Panjang dinyatakan dalam keadaan genting atau darurat. Pemerintah setempat mengumumkan agar masyarakat segera meninggalkan rumah untuk pergi menyelamatkan diri ke bukit-bukit.