Peninggalan Dr Sam Ratulangi
Ratulangi meninggal pada tanggal 30 Juni 1949. Dia dimakamkan sementara di Tanah Abang. Pada tanggal 23 Juli 1949, jenazahnya diangkut ke Manado dengan kapal KPM Swartenhondt. Kapal itu sampai di Manado pada tanggal 1 Agustus 1949. Pada hari berikutnya, jenazah Ratulangi dibawa dan dimakamkan di kampung halamannya, Tondano.
Sosok yang dikenal dengan filsafat ‘Si Tou Timou Tumou Tou’ yang artinya manusia hidup untuk memanusiakan manusia lain ini juga diakui memiliki kemampuan memprediksi apa yang akan terjadi ke depan. Dalam bukunya Indonesia di Pasifik yang dituliskan dan terbit tahun 1932 telah tersirat bakal pecah perang Pasifik. Sepuluh tahun berselang, apa yang diprediksi benar terjadi, tepatnya tahun 1942.
Ratulangi juga pernah mengusulkan agar daerah diberikan keleluasaan mengurus keperluannya sendiri atau otonomi daerah, hal yang baru terlaksana pasca reformasi atau lebih dari 55 tahun kemerdekaan Indonesia.
Perjuangan Sam Ratulangi untuk Minahasa, Sulawesi dan Indonesia sangat dikenang. Namanya diabadikan sebagai nama bandar udara Internasional di Manado yakni Bandara Udara Internasional Sam Ratulangi dan Universitas Negeri terbesar di Sulawesi Utara yaitu Universitas Sam Ratulangi. Sam Ratulangi juga diabadikan sebagai nama Jalan di Manado.
Awal tahun 2017, Sam Ratulangi juga diabadikan sebagai gambar mata uang kertas pecahan Rp 20.000 untuk mengenang perjuangan dan kontribusinya terhadap kemerdekaan Indonesia