Syekh Jalaluddin juga mengajarkan mengenai kegiatan maulid, dia mengajarkan maulid tepat tiga hari sebelum wafat. Tradisi Maudu kemudian pertama kali dilaksanakan pada 1963.
Tempat pertama kali diadakannya tradisi maudu' ini di Masjid Nurul Ilmi yang sekarang dikenal oleh masyarakat setempat
Perayaan ini dipusatkan di sekitar Sungai Cikoang di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan. Maudu Lompoa menjadi bukti bahwa dua unsur yang berbeda, yakni agama dan budaya lokal, bisa bersatu membentuk sebuah tradisi yang diwariskan secara turun temurun.
Tradisi ini selalu diadakan tiap tahun tepatnya pada 29 Rabiul Awal atau akhir bulan Rabiul Awal yang menjadi puncak peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Maudu Lompoa memerlukan waktu persiapan selama 40 hari. Tradisi Jene-jene Sappara atau mandi di bulan Safar menurut penanggalan Hijriyah yang dipimpin oleh para tetua adat merupakan acara yang pertama. Selain itu, ayam kampung yang akan disajikan pada puncak acara juga mulai dikurung.