Secara etimologis, Maudu Lompoa terdiri dari dua kata, yakni Maudu yang berarti Maulid dan Lompoa berarti besar. Jadi Maudu Lompoa, yaitu upacara perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW secara besar-besaran oleh masyarakat di Desa Cikoang Kabupaten Takalar.
Sejarah awal munculnya Maudu Lompoa dimulai ketika datangnya seorang ulama besar dari Aceh yang datang ke Cikoang untuk menyebarkan agama Islam. Pemahaman masyarakat setempat berkembang dan berbeda sesuai dengan cerita yang diberikan oleh orang tuanya.
Ulama besar itu bernama Syekh Jalaluddin yang pernah menuntut ilmu di Baghdad. Beliau diperkirakan tiba di Cikoang pada 1629 Masehi. Saat itu dia tiba di sebelah Cikoang Balanda, membawa sembilan kitab termasuk kitab Maulid ‘Aqidatul Anwal’.
Masyarakat Cikoang saat itu sangat mengagumi atas pola kehidupan Syekh Jalaluddin yang sederhana karena saat itu pemahaman masyarakat sangatlah kecil dan minim akan ajaran Islam dari segi akidah maupun syariat.
Pengajaran pertama yang dilakukan mengenai dasar akidah dan syariat yang diterapkan di kehidupan sehari-hari sebagai makhluk yang bertaqwa dan beriman.