Ibu Kweiya segera pergi ke hutan. Dia terus memanggil-manggil Kweiya sekuat tenaga, namun tidak ada sahutan.Hingga ibunya tersungkur ke tanah dan menangis putus asa karena tak menemukan Kweiya. Sampai akhirnya ibu Kweiya melihat seekor burung muncul dari pepohonan.
Eee… eee… eee…. Begitu suara burung yang muncul di hadapan ibu Kweiya. Saat ibunya bertanya, apakah burung tersebut Kweiya, namun burung itu hanya mengeluarkan suara “Eeee”saja. Ibu Kweiya yang terkejut dan menyadari akibat naluri dan ikatan batin antara ibu dengan anak, mulai sadar ternyata burung itu Kweiya.
Kweiya menyelipkan pintalan benang di bawah lengannya. Kweiya telah berubah wujud menjadi seekor burung yang indah. Ibu Kweiya mengikuti Kweiya dan mengambil sejumput pintalan benang. Ibu Kweiya menyelipkan pintalan benang di bawah lengannya seperti yang telah dilakukan Kweiya.
Dalam sekejap, ibu Kweiya berubah menjadi seekor burung. Dia segera terbang bersama Kweiya. Dan mereka kompak berubah menjadi seekor burung berbulu indah akibat pintalan benang dari Kweiya, yang hingga kini dikenal dengan nama burung cenderawasih.
Pesan moral dalam cerita tersebut, yakni janganlah iri dan dengki dengan saudara sendiri serta janganlah menyesal atas perbuatan yang telah kau lakukan karena sesungguhnya penyesalan akan selalu datang di akhir.