Untuk itu, dia mengingatkan masyarakat agar tak sekali-kali mencoba yang namanya narkoba. Sekali saja mencoba, bisa ketagihan hingga rasa candu yang sulit dilepas lagi.
"Sudah miskin dan pengangguran jadi pecandu narkoba lagi. Ini kan ironis. Mau jadi apa generasi penerus kedepan jika terpapar narkoba. Ini menjadi ancaman nyata bangsa Indonesia yaitu pembodohan melalui narkoba," katanya.
Diakui Aris, jumlah penyalahguna narkoba di daerah itu cenderung turun pada tiga tahun terakhir. Hal itu dapat terlihat dari angka prevalensi yaitu 1,3 persen atau turun dari tahun 2017 prevalensi 1,97 persen berdasarkan hasil penelitian Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan BNN.
Artinya, jika jumlah penduduk Kalsel usia dewasa sekitar 3.250.000 jiwa, maka penyalahguna sekarang lebih kurang 53.000 orang. Sedangkan di tahun 2017, diperkirakan penyalahguna mencapai lebih dari 79.000 orang.
"Mari kami galakkan untuk hidup sehat dalam arti hidup 100 persen tanpa narkoba. Apalagi di masa pandemi ini, hidup bersih dan sehat itu mutlak agar tak mudah terpapar Covid-19. Kalau sudah jadi pecandu narkoba, rugi segala-galanya. Rugi segi ekonomi, rugi kesehatan termasuk masa depan hancur," ujarnya.