Meski dinilai sangat rumit, Emil menyampaikan, bahwa Kementerian Perhubungan sudah melakukan beberapa langkah konkrit untuk meningkatkan daya tampung kereta api di Jawa Timur. Misalnya membangun dual track untuk jurusan Madiun Jombang, serta penyediaan lahan untuk relokasi kereta api menuju Porong.
Namun yang menjadi pertanyaan, Kota Surabaya sebagai kota megapolitan mau dibawa kemana dalam hal konsep transportasinya. Karena itu, menurut Emil, persoalan transporasi sangat berpengaruh terhadap persoalan perekonomian masyarakat.
"Kita lihat Surabaya situasinya crowded luar biasa, apabila sudah maksimal ditakutkan nantinya akan berpengaruh pada pertumbuhan ekonominya. Kalau sudah demikian siapa lagi yang akan mendorong pertumbuhan ekonomi Jatim," ungkapnya.
Karena itu, dirinya akan melihat kembali model transporasi di wilayah Gerbangkertosusilo (Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, dan Lamongan) melalui rencana tata ruang dan wilayah (RTRW) yang sudah ditanda tangani oleh seluruh bupati/wali kota se-Gerbangkertasusila tahun 2107 lalu untuk segera disahkan.
"Apabila sudah disahkan, maka kita tinggal merencanakan jalur baru kereta api baik untuk kereta api barang maupun penumpang. Sedangkan untuk konektifitas dan mobilitas jalur tersebut harus melalui perencanaan dan perhitungan yang tepat," ungkapnya.