Perjalanan sempat terjeda lima hari karena mesin kapal mendadak rusak dan harus dibenahi. Masih di perairan Tangerang, kapal kayu itu kembali mogok. Dibantu nelayan yang melintas, rombongan dievakuasi ke darat. Mereka memutuskan mendatangi markas Akademi Militer Tangerang. Gatot Cs sempat bertemu tokoh militer Daan Mogot dan Kemal Idris.
Setelah istirahat semalaman, rombongan diantar menuju Serang. Di atas geladak kapal BKR (Badan Keamanan Rakyat) Laut, yakni cikal bakal TRI dan TNI, rombongan menyeberang ke Sumatra. Untuk menghindari patroli Belanda di selat Sunda, penyeberangan melalui Anyer dilakukan pagi-pagi buta. Empat jam terapung di atas air. Penumpang yang belum terbiasa mulai terserang mabuk laut. Menguras isi perut untuk diberikan kepada ikan-ikan. Suroso, salah satunya.
Rombongan akhirnya sampai di Ketapang yang dilanjut dengan menempuh jalan darat. Semuanya berjalan kaki hingga tiba di Kalianda, Lampung. Sebuah truk jemputan menunggu. Satu persatu naik, dan langsung diangkut menuju Tanjungkarang. Tiba di kediaman Residen Lampung Mr Harahap, semua diminta turun. Rombongan melihat Hayat Harahap, tokoh GAMI yang mereka temui di Jakarta, sudah ada di lokasi.
Semua merasa lega karena ternyata tidak tersesat. Rasa penat dilepas. Dua malam mereka menginap sekaligus bisa beristirahat. Tepat hari ketiga, semua berkemas, karena perjalanan kembali dilanjutkan. Dengan bekal beras dan uang ala kadar, tugas sebagai kurir kemerdekaan, dimulai.
"Yang ditugaskan ke Bengkulu dan Palembang, naik dalam satu bus jurusan Palembang. Sedangkan yang bertugas ke Sumatra Barat, Tapanuli dan Sumatra Utara, dalam satu bus pula," tulis Gatot dalam 'Kurir-Kurir Kemerdekaan, Kisah Nyata Para Pemuda Pembawa Berita Proklamasi 1945'.