Perjalanan Gatot Iskandar, Remaja asal Kediri Jadi Kurir Kemerdekaan di Pulau Sumatra
Panasnya suhu politik Jakarta berlangsung sejak Proklamasi Kemerdekaan berkumandang. Sebulan paska proklamasi, sebanyak 200 ribu warga berbondong-bondong memadati lapangan Ikada (Sekarang lapangan Monumen Nasional). Dengan membawa berbagai senjata tajam, kepungan tank dan panser pasukan Jepang diterobos. Rakyat minta perang. Menunggu perintah Presiden Soekarno menghancurkan Jepang.
Bung Karno naik mimbar dan untungnya berhasil menenangkan massa yang sudah siap berani mati. "Belasan ribu orang tersebut bisa ditenangkan. Mereka kembali ke rumah masing-masing," kata Mangil Martowidjojo, Pengawal Bung Karno dalam "Pengalaman dan Kesaksian Sejak Proklamasi Sampai Orde Baru". Sementara oleh dua orang penjemputnya, Gatot dan Umar diantar ke jalan Bonang.
Di sebuah rumah bagus milik BR Motik, yakni kakak Johan salah seorang pengurus Gerakan Angkatan Muda Indonesia (GAMI). Gatot dan Umar menginap sambil menunggu perintah selanjutnya. Esok harinya, oleh aktivis GAMI keduanya dibawa ke Sawah Besar. Di sebuah rumah yang sudah disiapkan, Gatot dan Umar dipertemukan dengan kurir kemerdekaan dari daerah lain.
Suroso Prawirodirdjo dari Madiun. Pemuda Suroso merupakan pegawai jawatan kereta api yang juga aktif di organisasi Angkatan Muda Kereta Api. Dari Madiun Suroso ditemani Bonggar, pegawai jawatan kereta api kelahiran Sumatera Utara. Gatot dan Umar yang berusia paling belia juga diperkenalkan dengan pemuda Indratno, kurir kemerdekaan asal Yogyakarta, Supardi dari Banyumas, Cik Somad asal Palembang, Syamsudin dari Bengkulu, Anwar serta Azwar dan Rivai (Keduanya kakak adik) dari Minangkabau dan Hamid dari Tapanuli.
Di Jakarta yang situasinya mencekam, mereka menginap selama dua minggu. Briefing dan arahan mereka terima. Hingga tiba saatnya melanjutkan jalan. Dari Sawah Besar mereka bersama-sama menuju Pasar Ikan untuk menaiki kapal. Tim kurir kemerdekaan dibagi. Umar dan Cik Somad ke Lampung. Syamsudin dan Supardi ke Bengkulu. Azwar, Rifai dan Anwar ke Sumatra Barat. Suroso dan Bonggar ke Sumatra Utara serta Gatot dan Hamid ke Tapanuli.