Prof Slamet Muljana pada 'Pemugaran Persada Sejarah Leluhur Majapahit' bahkan tak ragu menyebut, Kerajaan Majapahit tanpa Gajah Mada bukanlah menjadi sebuah kerajaan besar. Ketika masa Tribhuwana Tunggadewi itulah Gajah Mada mengucapkan satu sumpah yang dikenal Sumpah Palapa.
Sumpah penyatuan nusantara dalam suatu politik atau wilayah di bawah Majapahit.
Sesudah Tribhuwana Tunggadewi bertahta, sang anak yang juga raja muda bernama Hayam Wuruk dinobatkan sebagai raja. Hayam Wuruk tidak hanya mewarisi tahta dan wilayah kerajaan, tetapi juga alat-alat pemerintahan.
Sang panca ri Wilwatikta tetap dipimpin oleh Patih Gajah Mada, pencetus dan pelaksana program politik nusantara sehingga Gajah Mada dapat meneruskan pelaksanaan program politik nusantaranya.
Penundukan kepulauan di sebelah barat dan utara Pulau Jawa dilakukan zaman pemerintahan Tribhuwana Tunggadewi Jayawisnuwardhani. Penundukan Kepulauan Nusantara bagian timur, kecuali Pulau Bali dilakukan pada zaman pemerintahan Hayam Wuruk Sri Rajasanagara.
Ekspedisi militer ke nusantara bagian timur dimulai pada tahun 1357 dengan penundukan Dompo di Pulau Bima oleh tentara Majapahit di bawah pimpinan Mpu Nala. Dompo dijadikan pangkalan tentara Majapahit untuk bergerak menundukkan pulau-pulau lainnya di bagian timur.