Sementara itu, pemerhati sejarah Mojokerto Ayuhan Nafiq dalam catatannya mengungkapkan, Batalyon Tjondromowo memiliki peran penting dalam mempertahankan keberadaan Mojokerto dan Jombang dalam pangkuan Ibu Pertiwi. Batalyon ini sempat melakukan tugas tempur ataupun tugas pengamanan wilayah di Tuban, Jombang dan Mojokerto.
Saat pertempuran 12 Februari 1949, Mayor Munasir berhasil meloloskan diri dari kepungan musuh di Dlanggu Mojokerto. Komandan pasukan dengan nomer register 39 itu kehilangan banyak anggotanya pada pertempuran sengit yang meminta banyak korban. KH Munasir kemudian menuju Tebuireng dan berusaha menyusun kembali kesatuannya.
"Berdasarkan penuturan Kapten Achyat Chalimy, salah satu anggota Bn 39, Batalyon Moenasir hampir musnah. Istilah itu muncul karena tidak banyak anggotanya yang bisa berkumpul kembali ke induk pasukan. Mungkin sebagian gugur, hilang atau memilih bergabung dengan kesatuan pejuang lainnya," tulis Ayuhan.
Tak habis akal, untuk mencukupi jumlah anggota, KH Munasir kemudian merekrut santri Tebuireng dan pesantren lainnya di wilayah Jombang. Pada 8 April 1949 Mayor Munasir melakukan konsolidasi di Desa Daro Kecamatan Peterongan, Kabupaten Jombang. Pertemuan itu bertujuan membangun kembali kesatuan yang sempat tercerai-berai. Mayor Munasir kemudian mengusulkan nama Tjondromowo untuk kesatuan yang dipimpinnya.
"Tjondromowo adalah nama kucing yang dipercaya memiliki kelebihan dan kekuatan adi kodrati. Keistimewaan kucing tjondromowo adalah pandangan matanya yang bisa menakutkan lawan. Seekor tikus akan lumpuh mana kala bertatapan pandang dengan kucing tjondromowo. Demikian pula kucing lainnya akan ketakutan bila bertemu kucing berbulu tiga warna itu," kata Yuhan.