MOJOKERTO, iNews.id - Nama Kiai Haji (KH) Munasir Ali saat ini jarang terdengar di kalangan anak muda. Namun, 76 tahun silam, nama ini mampu membuat ciut nyali para pasukan Belanda yang hendak menyerbu Mojokerto.
Meski seorang kiai, Munasir merupakan komandan Batalyon Tjondromowo. Batalyon ini dikenal sebagai pasukan berani mati yang tak pernah mengenal rasa takut. Cinta tanah air menjadi satu satunya jimat yang selalu dipegang pasukan ini. Tak heran jika pasukan Belanda yang ingin menduduki Surabaya dan sekitarnya kerap dibuat kocar-kacir.
KH Munasir lahir di Desa Modopuro, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto pada 2 Maret 1919. Dia anak dari seorang Kepala Desa Modopuro. Lahir dari keluarga terpandang tak membuat KH Munasir bermanja-manja. Dia memilih nyantri menimba ilmu agama dan mengabdikan diri pada tanah air tercintanya.
Munasir merupakan salah satu kiai yang memiliki peran penting dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Selama perang kemerdekaan, dia aktif berjuang dan berkarier di dunia kemiliteran. Sebagai mantan prajurit Heiho, dia kemudian mengembangkan keahlihannya di medan pertempuran.
Kiai Munasir aktif sebagai pasukan Hizbullah. Berkat kelihaiannya melakukan perang gerilya, dia kemudian menjadi Komandan Batalyon Tjondromowo.