Pesta ini sebagai peringatan mangkatnya Sri Paduka Bhatara ring Dahanapura Sang mokteng Indranibhawana setelah dua belas tahun.
Tetapi perintah itu ternyata belum dilaksanakan, karena pada prasasti Jiyu (OJO XCII) Sri Maharaja Girindrawardhana Dyah Ranawijaya pada kesempatan mengesahkan anugerah tanah Trailokyapuri, mengulangi lagi perintah tersebut kepada Sri Brahmaraja Ganggadhara.
Dari ulangan perintah itu nyata bahwa Girindrawardhana Singawardhana Dyah Wijayakusuma baru saja mangkat.
Sang Prabu tiba-tiba mangkat ketika prasasti Trailokyapuri itu sedang disiapkan dan belum sempat diberi stempel Girindrawardhanalencana.
Sri Brahmaraja Ganggadhara memohon kepada Sang Prabhu Girindrawardhana Dyah Ranawijaya untuk mengesahkan anugerah tanah Trailokyapuri dengan Girindrawardhanalencana.
Dari uraian itu nyata bahwa Sri Maharaja Girindrawardhana Dyah Ranawijaya ialah pengganti Sri Maharaja Girindrawardhana Dyah Wijayakusuma sebagai raja Keling.
Dapat dipastikan kedua tokoh itu mempunyai hubungan kekeluargaan. Namun apakah hubungan ayah-anak atau hubungan kakak-adik, belum diketahui secara pasti. Yang pasti, keduanya menggunakan nama Girindrawardhana dan bergelar Bhatara Keling.