Sementara untuk negeri-negeri yang jauh dari Majapahit pun juga didesak untuk bergabung menjadi negeri bawahan. Dengan demikian, mereka dapat menikmati manfaat perdagangan dan perlindungan angkatan laut Majapahit cukup dengan membayar upeti tahunan kepada kerajaan serta mengakui kekuasaan sang raja.
Proses ini berlangsung mulus sampai Raja Hayam Wuruk menginjak usia 21 tahun pada 1355. Ibu Suri pun cemas akan dua hal. Pertama sang putra kerap mengandalkannya dan Gajah Mada untuk membuat keputusan-keputusan penting menyangkut pemerintahan.
Kedua, Hayam Wuruk juga tak mengalami kemajuan dalam mencari seorang putri yang pantas untuk ratu. Dia bukan lagi seorang bocah, seiring bertambahnya usia, dia harus mulai bersikap layaknya seorang raja dewasa.
Tak heran jika tugas pertama yang Tribuhawana berikan kepada putranya ketika menginjak usia ke-21, yakni bersama-sama Gajah Mada mencari calon mempelai yang cocok dari sebuah negeri besar. Sehingga dari pernikahan tersebut, akan lahir aliansi yang penting bagi Majapahit.
Hayam Wuruk menyambut tantangan itu. Sayangnya, dia melakukan segala sesuatunya sendirian, tanpa meminta pertimbangan Gajah Mada.
Naluri mudanya menegaskan Hayam Wuruk ingin menunjukkan kemandirian dari sang Mahapatih Gajah Mada. Langkahnya memang amat mengesankan, sayang raja muda ini keliru memilih topik yang sensitif sebagai bahan ujian.
Pilihan tersebut menyebabkan kunjungan resmi Sunda ke Bubat dalam rangka merayakan pernikahan berakhir tragis. Peristiwa yang terjadi menimbulkan trauma, karena setelah itu Majapahit terus berseteru dengan Sunda, negeri terpenting yang masih menolak tunduk pada Majapahit. Dalam sejarah Jawa, isu ini mengundang perdebatan yang berkepanjangan tiada akhir.