Kisah Fatmawati Menangis Haru usai Pembacaan Teks Proklamasi 17 Agustus 1945

Solichan Arif
Fatmawati Soekarno. (Foto: ist)

“Tak ada yang memimpin lagu, sehingga suara yang dihasilkan terdengar sumbang,” dikutip dari buku Berkibarlah Benderaku Tradisi Pengibaran Bendera Pusaka.

Tepat pukul 10.00 WIB, usai pengibaran bendera merah putih, suasana berubah menjadi hening dan mencekam. 

Bung Karno mengeluarkan kertas yang terlipat dari saku jasnya. Sebelum membaca naskah Teks Proklamasi yang telah diketik dan dibubuhi beberapa coretan, Bung Karno memberi pidato pengantar.

Dalam 'Berkibarlah Benderaku Tradisi Pengibaran Bendera Pusaka' disebutkan semua berlinang air mata bahagia setelah pembacaan Teks Proklamasi.

Fatmawati tiba-tiba memeluk SK Trimurti. Keduanya berangkulan dengan menangis tersedu-sedu. 

Editor : Reza Yunanto
Artikel Terkait
57 tahun lalu

Mengenal Keroncong, Musik Kesukaan Bung Karno yang Dipromosikan hingga ke Mancanegara

57 tahun lalu

Monumen Kebulatan Tekad di Rengasdengklok Karawang, Abadikan Sejarah Kemerdekaan Indonesia

57 tahun lalu

Momen Haru Pertemuan Soekarno dan Musso sebelum Pemberontakan PKI, Ada Pelukan dan Air Mata

57 tahun lalu

Kisah Sepak Terjang Soebandrio, Kepala BIN era Soekarno yang Untungkan PKI

57 tahun lalu

Kisah Dewan Jenderal, Isu Pembunuhan Soekarno yang Muncul 4 Bulan sebelum G30S PKI

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal