Mbah Pri mengaku, bersepaturoda memang sudah menjadi hobinya sejak lama. Hampir setiap kali keluar rumah, Mbah Pri selalu mengenakan sepatu yang tenar di tahun 80-an itu.
“Saya sering berlatih. Hampir setiap hari latihan. Alhamdulillah sekarang bisa sampai sini,”tuturnya.
Meski begitu, Mbah Pri mengaku sempat mengalami kendala saat di perjalanan. Tepatnya di perbatasan Ngawi-Nganjuk, dan Mojokerto. Mbah Pri mengaku sulit berselucur lantaran kondisi aspal yang bopeng-bopeng.
“Tak kira jalannya bagus terus. Ternyata ada yang rusak. Sulit sekali. Tetapi nggak masalah,” ucapnya.
Dari perjalanan itu pula, Mbah Pri mendapat pelajaran berharga. Bahwa kehidupan di dunia ini tidak selamanya mulus. Meski begitu, seseorang harus tetap melewatinya.