Di Medan, Margaretha dan anak-anaknya menempati rumah dinas yang bagus. Sebagai istri komandan, mau tidak mau ia kerap menggelar pesta yang mewah. Dalam buku “Eye of Down”, sejarawan Erika Otrovsky menulis: sejak saat itu Margaretha seperti ratu.
"Dia memakai baju dengan model palimg mutakhir yang diimpor dari Amsterdam, Belanda, sehingga tampak elegan dan menjadi panutan kecantikan," tulis Erika Ostrovsky.
"Dia melayani tamunya dengan bahasa asli mereka: bahasa Belanda, Jerman, Inggris, maupun Perancis. Tapi dia memberikan instruksi kepada semua pelayan dengan Bahasa Melayu," tuturnya.
Margaretha pandai bermain piano, serta anggun dalam berdansa. Rudolph merasa bangga dengan kiprah istrinya yang secara tak langsung mengangkat kelas sosialnya.
Namun rumah tangga yang mulai berjalan harmonis itu, kembali gaduh. Tanggal 27 Juni 1899, dengan didahului jeritan menyayat dari kamar, Margaretha mendapati kedua anaknya muntah-muntah.