"Bagi petugas di sini, jam kerja adalah haknya untuk bekerja dan mendapat gaji. Namun jika tugas malam, mereka bilang ke saya untuk amalnya," ujarnya.
Eko menjelaskan, Krematorium Keputih saat ini memiliki tiga tungku pembakaran. Jika ketiganya sudah penuh, maka proses kremasi sudah selesai. Sebelum Covid-19, kata dia, jadwal kremasi teratur yakni setiap pagi pukul 08.00 WIB, siang pukul 10.00 WIB dan pukul 13.00 WIB.
"Kalau Covid kan mendadak, jadi kita bongkar yang kremasi tadi pagi, malamnya dipakai lagi sudah bisa," ucapnya.
Dia menegaskan, ritual kremasi berbeda dengan pemakaman pada umumnya. Kremasi membutuhkan waktu yang cukup lama sehingga baik keluarga maupun rumah sakit harus berkoordinasi terlebih dahulu sebelum mengirim jenazah.
"Proses pembakaran jenazah ditempat ini memang hanya membutuhkan waktu sekitar satu jam dengan suhu di atas 2.000 derajat. Hanya saja untuk proses pengambilan tulang dan abu pascapembakaran dari tungku harus menunggu hingga dingin. Jika jenazah dibakar sore, maka baru bisa diambil pagi harinya," katanya.