Perjalanan hidup Kusni Kasdut berubah drastis begitu kebijakan Rekonstruksi dan Rasionalisasi (ReRa) Kabinet Hatta di tubuh militer Indonesia (TNI), tidak mengikutsertakan namanya. Negara hanya mengakui namanya sebagai bekas pejuang, namun tidak dianggap sebagai tentara dalam tubuh TNI.
Kusni merasa menjadi korban kebijakan demobilisasi. Hatinya panas. Dia mengutuk dirinya sendiri.
"Namun, dia tidak berhenti di sana. Dia memutuskan untuk membalas dendam kepada negara yang “menghianati” dirinya dan memilih tempat “berseberangan”, tulis Daniel Dhakiade dalam “Menerjang Badai Kekuasaan”.
Kusni Kasdut butuh hidup. Dia kemudian memutuskan menjadi perampok dengan merampok Museum Gajah Jakarta. Kusni bersama teman-temannya menggasak perhiasan kuno dan diringkus di Semarang.
Sebelumnya dia lebih dulu menculik seorang dokter tionghoa kaya di Surabaya. Kusni meminta uang tebusan. Saat diinterogasi di kantor polisi Semarang, Kusni mencoba kabur. Dalam baku tembak, seorang polisi tewas terkena peluru yang dia lepaskan. Kusni Kasdut tertangkap dan dijebloskan penjara. Namun berhasil kabur dengan merusak tembok penjara.