"Dengan bersyukur individu tidak merasa takut dengan cobaan, karena yakin akan adanya jalan keluar dari masalah yang dihadapi," katanya.
Untuk memunculkan rasa bahagia, manusia juga harus mampu untuk berpikir positif. Menurutnya, berpikir positif akan memunculkan energi positif.
Doctor of Clinical Psychology tersebut mengatakan rasa bahagia dalam diri manusia juga bisa dipengaruhi faktor social distancing. Mengingat manusia sebagai mahkluk sosial selalu butuh bersosialisasi, berinteraksi, dan berkumpul, sehingga pembatasan interaksi ini membuat seseorang merasa kesepian, kehilangan dan perubahan mood.
"Bahkan, berpengaruh pada hormon oksitosin atau hormon cinta yang berdampak pada tingkah laku, respons emosi juga terlihat dalam membangun ketenangan, kepercayaan, dan stabilitas psikologi dan berperan mengatur ikatan sosial," kata Sumi.
Dia menyarankan agar masyarakat bijak dalam memilih sumber informasi yang valid. Banyak informasi hoaks tersebar dan tidak dapat dikontrol.
"Saya berharap masyarakat tetap waspada dan melakukan tindakan preventif," katanya.
Dia berharap masyarakat harus mengonsumsi makanan bergizi seimbang, menjaga imunitas tubuh dengan banyak mengkonsumsi vitamin C atau yang mengandung antioksidan. Selain itu juga banyak berdoa dan patuh terhadap imbauan pemerintah untuk tetap tinggal di rumah selama 14 hari guna memutus mata rantai COVID-19.