Arya Panoleh yang pada saat itu menggunakan pakaian warok serba hitam dan kaos bergaris-garis ciri khas orang Madura sempat menolak, karena tak pernah menikmati hidangan tersebut.
Akhirnya, Arya Panoleh mau mengkonsumsi sate Madura, setelah kakaknya bercerita jika menu tersebut biasa dimakan oleh para pendekar di Ponorogo.
Pada awalnya, sate dengan tusuk lidi hanya ditemukan di daerah Sumenep. Namun akhirnya tersebar ke seluruh dataran Pulau Madura.
Elly Lasmanawati dari Fakultas Pendidikan Teknologi dan Kejuruan Universitas Pendidikan Indonesia menyebutkan para penjual sate kambing biasanya memiliki tanda khas saat menjajakan dagangannya. Kaki bagian belakang kambing digantungkan di tempat mereka berjualan.
2. Makna Satukan Elemen
Sate sudah sangat melekat pada masyarakat Madura. Menurut Kadarisman Sastrodiwirjo, Pensiunan Peneliti Balitbang Provinsi Jawa Timur, sepiring sate Madura memiliki filosofi. Ia mengatakan sate Madura berarti menyatukan setiap elemen.
Dia menyebut tanah di Madura sangat gersang sehingga susah ditanami sayuran. Sehingga masyarakat lebih memilih menyantap hewan ternak dan ikan laut.
Itu lah asal-usul sate Madura. Seakan tak bisa terpisahkan, warga Madura tetap menjadikan sate sebagai panganan utama di manapun mereka berada.